Kamis, 21 September 2017

Ketika Sahabat dan kekasih menjadi pilihan .

Aku dan kamu dipertemukan ketika aku sedang terpuruk dan kamu sedang mencari pengganti yang tepat setelah sahabatmu lebih memilih dengan lelaki lain . Ketika kamu memintaku untuk mendampingi hidupmu aku bersedia . Namun , setelah aku lalui semuanya kamu selalu saja mengabaikanku demi sahabatmu yang selalu membutuhkanmu disampingnya . Dan kamu selalu memanjakannya dengan cara apapun itu . Aku merasakan sedikit cemburu namun aku tidak pernah marah karena itu adalah hakmu dan aku tidak mempunyai kewenangan akan itu .

Aku faham , Kamu mengenalnya jauh lebih dulu daripada kamu mengenal diriku . Kamu pernah bercerita tentang bagaimana kamu sangat menyayanginya sampai sejauh ini . Dirimu sempat mengatakan bahwa sangat menyayanginya lebih dari apapun bahkan ketika dia bersama pendamping hidupnya kamu selalu mengawasinya dari jauh dan selalu memberikan perhatian - perhatian kecil terhadapnya . Dia memiliki segalanya bahkan ia telah memiliki hatimu yang utuh.

Aku akui aku kalah dalam hal ini . Sempatkah kamu berfikir untuk meluangkan waktumu sedikit saja untukku? Aku tahu kamu sibuk dengan urusanmu tetapi kamu selalu sempat memberikan kabar terhadapnya , Sedangkan terhadapku ? Sama sekali tidak memberikan kabar . Apakah itu adil ?

Aku yang selalu mencemaskanmu dalam doaku , yang selalu merindukanmu sejak fajar menyingsing hingga senja tenggelam . Apakah kamu merasakan bagaimana resahnya aku memikirkan dirimu ? Ah  , Kufikir ini terlalu lebay . Tidak! Ini panggilan dari hati . Meskipun aku selalu menghabiskan waktu tanpa mengingat dirimu tetapi rindu ini selalu menerpa tertikam di dada . Padahal aku sebenarnya tahu bahwa kamu selalu bercerita dan menghabiskan waktu dengannya .

Berilah aku kabar sesekali . Kau tau ? Aku tidak akan mengganggu waktumu . Aku hanya rindu .